Rabu, 1 Juli 2026. Gedung Pendopo Kabupaten Garut dipenuhi oleh 200 pelaku usaha mikro — pemilik warung kelontong dan pelaku UMKM — yang hadir bukan sekadar untuk mendengarkan, tetapi untuk belajar mengelola usaha mereka secara lebih profesional.
Inilah Sakola Ngawarung, bagian dari Program C-LIVE (Community-Led Initiative for Versatile and Empowerment) — sebuah inisiatif pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dirancang dengan pendekatan CSR/TJSL yang terstruktur, terukur, dan berdampak nyata. SUN Consulting berperan sebagai konsultan CSR/TJSL dalam program ini, mendampingi Sampoerna dalam merancang dan mengimplementasikan program yang selaras dengan prinsip Creating Shared Value (CSV) dan standar ISO 26000.
Daftar Isi
Program yang Lahir dari Kolaborasi Tiga Pilar
Sakola Ngawarung adalah contoh nyata bagaimana program CSR yang dirancang dengan baik mampu mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: dunia usaha, lembaga pengembangan masyarakat, dan pemerintah daerah.
Program ini diselenggarakan oleh Program Keberlanjutan Sampoerna untuk Indonesia bersama Yayasan Senyum Untuk Negeri dan Pemerintah Kabupaten Garut, dengan dukungan Sampoerna Entrepreneurship Training Center serta Sampoerna Retail Community (SRC). SUN Consulting hadir sebagai mitra penyelenggara yang mendampingi perancangan dan implementasi program agar selaras dengan standar CSR/TJSL yang terukur dan berdampak.
Peserta yang hadir terdiri dari:
- 175 pemilik warung kelontong dari wilayah Kabupaten Garut
- 25 pelaku UMKM Wirahebat binaan Pemerintah Kabupaten Garut
Bukan Pelatihan Biasa: Dari Penataan Rak hingga Break Even Point
Yang membedakan Sakola Ngawarung dari pelatihan UMKM konvensional adalah kedalaman materi yang diberikan. Peserta tidak hanya mendapatkan motivasi — mereka dibekali dengan keterampilan manajerial yang langsung dapat diterapkan di warung mereka.
Materi pelatihan mencakup:
- Manajemen toko — strategi penataan barang dan pengelolaan inventori yang efisien
- Pengelolaan keuangan usaha — pencatatan arus kas harian secara sistematis
- Analisis usaha — perhitungan Break Even Point (BEP) untuk memahami titik impas dan margin keuntungan
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan berbasis kapasitas (capacity building) yang menjadi salah satu pilar layanan SUN Consulting — bahwa program CSR yang berkelanjutan harus meninggalkan kemampuan, bukan sekadar bantuan.
Membuka Pintu Pasar: UMKM Lokal Masuk Warung Mitra SRC
Lebih dari sekadar pelatihan, Sakola Ngawarung juga membuka peluang pasar konkret bagi produk UMKM lokal Garut. Dalam kegiatan ini, produk-produk unggulan UMKM Wirahebat ditampilkan dan dikurasi — dengan peluang untuk selanjutnya dipasarkan melalui Pojok Lokal di Warung Mitra SRC di seluruh jaringan Sampoerna Retail Community.
Ini adalah wujud nyata dari Creating Shared Value: perusahaan tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka akses pasar yang menciptakan nilai ekonomi bagi komunitas dan nilai bisnis bagi ekosistem ritel Sampoerna.
Suara dari Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, menyambut antusias program ini dan menegaskan harapannya agar dampaknya tidak berhenti di ruang pelatihan.
“Program ini menjadi contoh nyata kolaborasi antara dunia usaha, lembaga pengembangan masyarakat, dan pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan yang dapat menjadi kebanggaan Kabupaten Garut,” ujar Luthfianisa.
Ia berharap program ini menjadi titik awal lahirnya UMKM yang semakin tangguh, inovatif, dan berdaya saing — sekaligus mendorong terbentuknya jejaring antarpelaku usaha yang saling mendukung dan bertumbuh bersama.
“Kepada seluruh peserta, kami berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, serta mengembangkan usaha secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian Kabupaten Garut,” tambahnya.
Relevansi Program: CSR yang Terukur dan Berkelanjutan
Dari perspektif CSR/TJSL, Sakola Ngawarung mencerminkan beberapa prinsip tata kelola program yang baik:
✅ Berbasis kebutuhan komunitas — Program menyasar pelaku usaha mikro yang membutuhkan peningkatan kapasitas manajerial, bukan sekadar bantuan modal.
✅ Kolaboratif dan multipihak — Melibatkan korporasi, yayasan, pemerintah daerah, dan komunitas UMKM dalam satu ekosistem program yang terintegrasi.
✅ Berorientasi dampak jangka panjang — Materi yang diberikan (BEP, manajemen arus kas, penataan toko) adalah keterampilan yang digunakan seumur hidup usaha, bukan intervensi satu kali.
✅ Membuka akses pasar — Integrasi dengan jaringan Pojok Lokal SRC memastikan ada output ekonomi nyata, bukan sekadar sertifikat pelatihan.

0 Comment